Rabu, 12 Desember 2007


PERAN PEMUDA

Berangkat Dari Nasionalisme.
Membangun kesadaran Nation (bangsa) merupakan landasan awal dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nation atau bangsa adalah kesadaran kolektif, yang mana sama-sama menjadi korban penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh bangsa kolonial dan imperialisme. Masyarakat nusantara yang pada masa jaman kolonial yang berbeda bahasa, beragam suku, dan adat yang berbeda. Merupakan landasan awal yang harus di bangun budaya yang sama dan dalam keinginan yang sama (Wils).
Pada masa penjajahan zaman belanda, perlawanan terhadap pihak kolonial masih dalam konteks primordial-primordial masyarakat. Misalnya perlawanan yang di lakukan oleh SDI (serikat dagang islam) di bawah pimpinan gagasan Mas Tirto Adisuryo, perlawanannya masih pada kepentingan politik dagang, khususnya pedagang batik, begitu juga dengan pemberontakan petani Banten, belum terbangunnya kesadaran Nation State (negara - bangsa) untuk kemerdekaan yang seutuhnya ; 100% atas Tanah, Air dan Udara.
Pada tahun 1920-an, kesadaran rakyat atas keinginan bersama (wils) untuk kemerdekaan yang dipelopori oleh pemuda sebagai garda terdepan, karena juga dipengruhi oleh situasi objektif masyarakat yang semakin hari semakin sengsara dan semakin bertambah tertindas, dan akumulasi ini bertemu titik klimaksnya pada sumpah pemuda 28-28-1928.
Sebuah Impian.
Selama tahun-tahun terakhir zaman Belanda, politik pemuda terbatas terutama pada golongan anak-anak priyayi terkemuka. Pimpinannya sangat terpusat di dua kota besar, Jakarta (atau batavia, sebagaiman dikenal pada waktu itu) dan Bandung, karena di tempat itu terdapat fakultas kedokteran, hukum, dan teknik. Sesungguhnya pengalaman hidup dari lembaga-lembaga pendidikan ini (kemanamahasiswa-mahasiswa Indonesia tertarik) menerangkan mengapa justru di tengah-tengah barisan pemuda-pemuda inilah ideologi “nasionalisme Indonesia” yang khas itu dirumuskan dan di sebarkan untuk pertama kali.
Penentangan.
Kedatangan Jepang disambut sebagai pembebas dari penindasan kolonial pada saat mereka tiba di Jawa dalam bulan Maret 1942,kepopuleran mereka hanya sebentar. Perkosaan, perampasan, perdagangan gelap, dan keangkuhan rasial menimbulkan dendam yang melua, dan kebencian terhadap teror yang dilakukan oleh kenpeitai (polisi militer) malah bertambah besar karena setiap orang terpaksa menyembunyikannya. Perusakan dan perampasan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pendudukan itu paling pahit dirasa oleh kaum tani karena mereka menjadi korban pertama dari penyerahan padi secara paksa dan program romosha.
Dalam tahun 1944, suatu tahun yang ditandai dengan kegagalan panen yang meluas, dendam beralih keputusasaan dan kebencian kaum melarat. Dan pemberontakan mulai terjadi, seperti pemberontakan di Singaparna (Tasikmalaya) pada tanggal 25 februari 1944, pimpinan di pegang oleh seorang kiai tredisionalis tua yang didukung oleh para anggota pesantrannya.
Proklamasi Kemerdekan
Kegagalan Gerakan Rakyat Baru itu menandai berakhirnya kegiatan politik dari zaman pendudukan, dalam mana peraturan-peraturan politik ditetapkan secara mutlak oleh angkatan darat jepang. Pada waktu yang sama dengan jelas kegagalan itu mensinyalir pola perselisihan yang akan timbul pada saat Kerajaan Jepang mendekati keruntuhannya.
Pada tanggal 17 juli 1945, Sauko Senso Shido Kaigi (Dewan Pengawasan Perang Tertinggi) melangsungkan suatu rapat yang menetukan, dalam mana mentri luar negeri Togo membujuk kolega-koleganya untuk supaya kemerdekaan “Boneka” dengan segera diberikan kepada bekas Hindia Belanda, tetapi prakarsa itu supaya diambil, atau nampaknya diambil, oleh rakyat Indonesia sendiri. Pada tanggal 21 juli, keputusan ini setelah disahkan oleh kabinet perang disampaikan kepada panglima angkatan darat ke16, Jenderal Yuichiro Nagano di Jakarta.
PPKI.
Pada tanggal 7 Agustus, Saigon mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pagi 9 Agustus 19945, Sukarno, Hatta, dr. Radjiman Wediodiningrat (ketua badan penyelidik), dr. Suharto (dokter pribadi sukarno), Letnan Kolonel Nomura, dan Miyoshi berangkat ke Singapura dengan menumpang pesawat militer. Disana Nomura melapor kepada pejabat-pejabat militer. Kemudian hari itu juga mereka meninggalkan Singapura untuk melanjutkan perjalanan ke Saigon. Pada tanggal 11 Agustus 1945 Marsekal Terauchi menerima ketiga pemimpin Indonesia itu divilanya di Dalat, dan pada pukul 11.40 pagi Sukarno dan Hatta dilantik sebagai ketua dan wakil ketua dari PPKI yang baru. Dalam pembahasannya disetujuilah bahwa PPKI akan melangsungkan sidang yang pertama tanggal 18 Agustus, dan bahwa kemerdekaan itu akan disampaikan secara resmi sesegera sesudah persiapan terakhir dipihak Jepang disimpulkan.
Sekitar tanggal 13 Agustus, keanggotaan PPKI diumumkan dan keanggotaannya dikuasai oleh angkatan tua dan tidak ada satu orangpun dari angkatan muda yang dilibatkan.
Problem Kemerdekaan
Berita penyerahan, atau setidaknya desas-desus bahwa hal itu terjadi, beredar begitu cepat melalui jaringan pemuda di seluruh pelosok ibu kota. Rapat darurat pemuda dilangsungkan di Laboratorium Bakteriologi di pegangsaan dekat rumahnya Sukarno. Setelah diskusi secara mendalam, diputuskan untuk mengirim delegasi yang dipimpin oleh Wikana untuk menjumpai Sukarno malam itu juga, mendesaknya supaya membuat proklamasi diluar kerangka PPKI secapat mungkin.
Sejak Kongres Pemuda, para pemuda tetap mendesak pejabat-pejabat Jepang supaya bergerak lebih cepat kearah kemerdekaan, dan mengecam pimpinan tua karean sifat takut-takut dan kepasifan mereka. Deklarasi kemerdekan yang segera dan otonom adalah penting sekali demi kemerdekaan itu sendiri, sebagai pernyataan secara simbolis dari kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri. Saat krisis yang telah lama dinantikan telah tiba. Jepang sekarang sudah kehilangan wewenang apapun yang oernah mereka miliki; jika pemimpin tua gagal melakukan apa yang diharapkan mereka lakukan, maka pemudalah yang mesti mengambil nasib bangsa ke dalam tangan mereka sendiri.
Pada akhirnya pemuda menculik Sukaeno dan Hatta, sekitar pukul empat pagi tanggal 16 Agustus 1945, Hatta dan Sukarno (bersama keluarganya) dibangunkan dan dibawa ke Rengasdengklok. Dan dari peristiwa ini masih banyak pendapat. disatu pihak, dikemukakan bahwa dengan menyingkirkan Sukarno dan Hatta dari Jakarta, pemuda berharap dapat mencegah mereka dipaksa oleh Jepang untuk memadamkan pemberontakan pemuda yang direncanakan untuk dimulai di Jakrta.

Tidak ada komentar: