Rabu, 12 Desember 2007


What’s Revolution?
Menjadi revolusioner bukan berarti menjadi buru-buru. Revolusioner sejati bukanlah mereka yang memaksakan satu guideline perubahan berdasarkan ukuran atau asumsi perjuangan kelas-kelas tertinda dalam menguasai alat-alat social sumber penndasan sebagaimana diceritakan (!). kelas tertindas yang didorong membebaskan diri adalah satu hal; tapi bahwa perlawanan kaum tertindas memiliki dorongan tidak tunggal itu juga hal yang selalu terjadi.
Bahwa Lenin atau siapapun pernah menegaskan rumus-rumus kesadaran sebagai alat revolusi kelas tertindas bukan berarti perubahan Cuma milik Lenin; masyarakat kelas tertindas bukan cerita dan, demikian halnya, pembebasan kelas tertindas mustahil terjadi hanya dengan merujuk dan kemudian kemudian menganggapnya sama dengan cerita-cerita tentang yang pernah dilakukan Lenin, Marx, atau siapapun.
Revolusi adalah sejarah pada pengertiannya yang paling dasar. Ia hanya bisa lahir dari perlawanan atas apa yang oleh Marx disebut mode produksi masyarakat. Setiap upaya yang mengatas namakan revolusi tetapi tidak mencoba memasuki relung dalam, inner world, yang menjadi dasar segala ‘alasan’ berputarnya roda sejarah suatu masyarakat, hanya akan melahirkan persoalan untung rugi social dan tidak bisa jadi jaminan berakhirnya penindasan-penghisapan (intenisifikasi-super-eksploitatif) kemanusiaan.
Penggalian nilai-nilai revolusioner perjuangan-perubahan selalu diupayakan dengan terlabih dalu menemukan dasar-dasar penghisapan-penindasan; baik ia bernama mode produksi, mode konsumsi, atau sebatas mode distribusi ekonomi politik masyarakat dan kemudian mengidentifikasi pihak-pihak mana yang menguasainya. Menjadikan revolusi sebagai cita-cita berarti menempatkan kenyataan ekonomi politik masyarakat sebagai system sejarah yang nyata-nyata terjadi.
Historisitas dan otentisitas masyarakat merupakan sumber asli revolusi. Sekedar ilustrasi lanjutan, apakah otentifikasi histories yang dilakukan Marx ketika berbicara tentang ‘kerja’ dan mematok revolusi dari perintah moral ‘bersatulah pekerja seluruh dunia’ cukup memadai untuk juga menyimpulkan bahwa seluruh manusia dimuka bumi juga sudah terlibat dalam pengertian kerja sebagaiman dimaksud Marx adalah pertanyaan awal yang penting untuk memulai apapun pembicaraan atau tindakan atas nama Marxisme.
Sekaligus kita dapat ilustrasikan kritik Laclau tentang sumber penindasan yang terjasi di Amerika Latin tiga abad lampau bukanlah kelas pemodal, tapi golongan Feodal Portugal dan Spanyol –negeri yang dimaksud Laclau-untuk membungkam Andre Gunder Frank dari teori ketergantungan. Atau Bill Warren –seorang Marxis orthodok—yang membawa pembicaraan berspektif Marxisme kembali kewacana produksionis; bukan kapitalisme dalam pengertian modal dagang –seperti yang dianut kaum marxis-fungsional—tetapi modal produksi.
Artinya, kalau memang rangkaian revolusi yang terjadi sepanjang sejarah manusia hendak dijadikan alas gambar perubahan kita saat ini, yang mesti kita kedepankan bukan lah permasalahan secuil kepemimpinan (klas) social semasa revolusi. Kita bebaskan Revolusi Rusia dari kerangkeng Leninisme, revolusi Indonesia dari Soekarnoisme, dan revolusi Cina kita bebaskan dari jebakan asosiatif Maoisme, dan demikian seterusnya, untuk kemudian mengembalikan revolusi kepada pemilik dan penggeraknya yang sejati; rakyat!
Dus, sejarah revolusi harus dikembalikan pada esensi awal social dimana revolusi terjadi sebagai hal alamiahdar masyarakat yang diharuskan (oleh penindasan-penghisapan!) untuk segera membebaskan diri. Buku suci perubahan adalah logika social yang terbentuk dari bukan hanya satu, dua, atau tiga kelas social –ingatlah Simon dan Rucio ketika mendiskripsikan wacana produksionis kedalam sub aliran artikulasi mde produksi yang memungkinkan terjadinya aliansi klas atas mode produksi kapitalis, pra kapitalis atau non kapitalis dimana kecendrungan terakhir tersubordinasi atas yang pertama, atau juga Internasionale modal yang berbicara tentang pembagian kerja International dan mode produksi colonial yang diterangkan baik sekali oleh Hamza Alavi—tapi juga dari semesta kesadaran yan mengendap-mendasari relasi social antar klas dalam masyarakat, yang petut disebut dengan class character. Historisitas otentisitas pembebasan, kesejatian revolusi, hanya mungkin diawali dengan perlawanan atas penindasan dan penghisapan otentik-historis yang terjadi dalam setiap fasedisetiap tempat hidup masyarakat.
Yang kemudian perlu terus dicari adalah penjelasan tentang bingkai keaslian serta atas sejarah masing-masing peristiwa revolusi; untuk klas tertindas oleh klas tertindas dan dalam konteks ketertindasannya masing-masing, itulah paragraf pembukaan revolusi (!) bukan dalam pengertian sebagai ritus pemberhalaan sejarah para ideology (politikus besar?) yang telah membacakan dirinya dihadapan sejarah pengetahuan kita.
Menjadi revolusioner adalah menemukan inti kesadaran ketertindasan yang sanggup menyelamatkan maksud-maksud pembebasan dan membangunkan niatan revolusi dari tidur panjang dihadapan nisan para pahlawan.
(Rakyat koeasa)

Tidak ada komentar: