Telah Terbit!
Salah satu buku yang wajib dibaca oleh kalangan sejarawan, akademisidan
aktivis sosial di Indonesia:NUSANTARAKarya Bernard VlekkeKepustakaan Populer
Gramedia (KPG)Terbit: Mei 2008www.khatulistiwa.netNusantara merupakan salah satu
deskripsi sejarah Indonesia yangditulis secara mendalam namun populer. Kendati
buku ini terbit pertamapada 1943, banyak hal-hal yang disampaikan oleh Vlekke
aktual sampaiabad ke-21. Berbeda dengan buku sejarah selebihnya, Vlekke
menampilkanproses sejarah Indonesia tanpa terlalu memusatkan proses
padaperluasan kolonialisasi.Dalam buku ini Vlekke misalnya memaparkan bahwa
perang agama sangatlangka di Jawa dan boleh jadi penyebabnya adalah
sinkretismeterpelihara sejak zaman dulu. Ada kisah kegagalan Sultan
Agungmenyatukan Nusantara karena tak punya angkatan laut yang memadai.Kisah lain
yang langka adalah perubahan tabiat orang Belanda yangrajin di tanah airnya
(Homo batavus), namun jadi pemalas ketikatinggal di Batavia (Homo
bataviensis).Edisi Indonesia buku ini merupakan terjemahan edisi revisi
1963.Penulis menyajikan sejarah Nusantara secara populer. Oleh karena itu,buku
ini seolah-olah berisi dongeng Indonesia pada masa silam. Pembacamuda Indonesia
dapat dengan mudah memahami kisah yang ditampilkandalam buku ini.Jika ingin
membelinya kunjungi toko buku online www.khatulistiwa.net.Untuk Jakarta buku
diantar dan bisa bayar di tempat.Khatulistiwa Onlinewww.khatulistiwa.net
Kamis, 12 Juni 2008
Ketololan Menteri Ekonomi
NEGARA INDONESIA INI TERKUTUK MENGULANGI KESALAHANSEJARAHNYA, KARENA TIDAK
BELAJAR DARI KESALAHANSEJARAHNYA YANG LAMPAU. (paraphrase ucapan Anwar
Sadat)Kesarjanaan Tinggi. Team Ekonomi Kabinet SBY, khususnya Budiono,
SriMulyani, tapi juga Purnomo Yusgiantoro dan SofyanDjalil, sekalipun menyandang
tingkat kesarjaan ekonomitertinggi dan lulusan dari Universitas tersohor
diAmerika Serikat, namun membingungkan, mengapa merekamelakukan kesalahan
fundamental melenceng dari teoridan hukum ekonomi elementer sekalipun.Anak SMEA
sendiri, tahu benar bahwa harga, permintaandan penawaran berhubungan fungsional
satu sama lain.Bila permintaan naik harga akan naik atau bilapenawaran naik
harga akan turun. Atau bila harga naik,maka permintaan akan turun pada suatu
tingkatkeseimbangan di mana jumlah permintaan akan samadengan jumlah
penawaran.Namun dalam hal kenaikan harga BBM, 24-5-2008, prinsipelementer
ekonomi tersebut diabaikan total oleh TeamEkonomi Kabinet SBY.Timbul pertanyaan
apakah kesarjanaan Team ini bukanyang dikatrol oleh 'CIA'-Ford Foundation belaka
dalam'Mafia Berkeley' yang disetir dan sudah diperhitungkandari semula akan
berkuasa kelak di Indonesia? (Soal'Mafia Berkeley' ini sudah dikupas dalam buku
'TsunamiBangsa Ini' terbitan LSKN).Siapa yang tidak penasaran menyaksikan
ketololan dariTeam Ekonomi Kabinet SBY ini yang -tanpa dasar danprinip ekonomi-
begitu tega menaikkan harga BBM yangmenyengsarakan rakyat kecil, sambil menutupi
kejahatanmereka tersebut dengan menyandiwarakan jiwa sosialyang pura-pura sangat
tinggi terhadap rakyat denganmenyalurkan subsidi BLT-'ratusan perak' yang
tidakberarti apa-apa. Namun tidak dapat disangkal bahwa BLTdiciptakan hanya
untuk menutup-nutupi'triliunan-perak' subisidi lain dari APBN yangdisalurkan
seenaknya oleh Sri Mulyani . Menterikeuangan ini justru menganggap dirinya
seorangahli-fiskal, padahal dia ahli-pembukukuan- elementer(boekhouding) pun
tidak! Masa' menghadapi lonjakanharga minyak di atas $120 per barrel, Sri
Mulyanimerumuskan 86 skenario untuk ditentukan pilihannyaoleh Presiden? Dalam
republik negara hukum iniUndang-Undang Dasar Pasal 31, (4) sendiri
bisadilanggarnya mentah-mentah, bebas sebebas-bebasnyadengan
'impunity'.Pelanggaran Prinsip-Hukum Harga dalam Kenaikkan HargaBBM dan
Pemberian BLT.Prof. DR Budiono menyanyikan teori harga ngawur:Pemerintah akan
menyamakan harga BBM di dalam negeridengan harga minyak di pasar internasional.
Inidilakukan karena anggaran subsidi (APBN) akan ditekanlebih rendah dan
Pemerintah ingin menyerahkan hargaBBM pada penyesuaian otomatis dengan harga
dunia. Pada15 Mei 2008, harga jual di Indonesia hanya sebesar Rp4500 per liter.
Dengan kenaikan sekitar 30%, hargajual premium per liter menjadi Rp 6000 per
liter.Artinya, Pemerintah akan menyubsidi Rp 3450 per liter.Prof.Chatib Basri
dari Univ. Indonesia dan LPEM-UImenyajikan teori fiktif: Subsidi BBM per liter
adalahRp 4100 (selisih antara harga internasional premium Rp8600 dan harga
domestik kepada pemilik mobil adalah Rp4100 per hari atau Rp 1,200 000 per
bulan.Mereka yang tidak memiliki mobil atau motor,memperoleh subsidi BBM melalui
transportasi murah.Salahkah jika dari subsidi yang lebih dari Rp 1,200000 itu
dialokasikan Rp 100 000 sebulannya bagipenduduk miskin?DR Jusuf Kalla
ceplas-ceplos mengedepankan teorisaudagarnya: Harga BBM harus naik. Kalau harga
BBM taknaik, yang menikmati subsidi itu ialah yang banyakmobil dan yang pakai
AC.Teori konyol ini mengingatkan kita kembali padaMenteri Pasar Rumput Mari
Pangestu yang mengarangteori 'operasi-pasar' bohong-bohongan:Saya tidak bisa
menurunkan harga selain dari memberisubsidi bagi orang miskin, dan untuk itu
saya pribadiharus turun ke Pasar Rumput -di Jakarta, Indramayu,Surabaya dll
untuk membagi-bagikan sembako bersubsiditapi bagi yang sangat miskin saja.
Padahal Menteri inidengan mudah bisa menurunkan harga seperti biasanyadengan
menambah supply, namun tidak boleh dilakukannyakarena harus membantu usaha
benalu BULOG memiskinkanpara petani. Minyak goreng juga harus saya subsidibagi
orang miskin. Padahal Mari Pangestu bisa dengangampang sekali menambah pasokan
(Indonesia adalahproducer CPO terbesar di dunia). Tapi, oleh karenatelah menjadi
SatPamnya Eka Tjipta -rajanya minyakgoreng- yang mengambil kesempatan dari
melonjaknyaharga CPO dan minyak goreng di pasar dunia- MenteriPasar Rumput ini
dipaksa oleh bossnya untuk membatasipasokan dalam negeri.Ketiga ahli-ahli
ekonomi di atas tadi tidak menyadaridan sama sekali tidak mengerti, mengapa
kenaikan hargaBBM harus mereka selewengkan dan lepaskan dari prinsipdan hukum
ekonomi harga yang lazim, tapimendasarkannya melulu pada harga minyak dalam
pasarinternasional di Malaysia, Thailand, Amerika Serikatdsb dsb.Sebab,
pembentukan harga minyak atau barang apa sajapada setiap negara berlangsung
mandiri dengan sstemdan struktur harga domestik masing-masing tanpa pernahada
hubungan satu sama lain. Kalaupun dalam teoriperdagangan internasional, pernah
dilakukanperbandingan antara harga barang-barang domestik yangsatu dengan
harga-harga domestik yang lain, tindakansedemikian terbatas hanya pada usaha
untuk memperolehtingkat kurs mata uang dalam hubungan transaksi
valasantar-negara. Tapi tindakan seperti itu tidak pernahdilakukan dan
dipertimbangkan dalam memperbandingkanharga minyak atau satu per satu harga
barang lain,baik yang ditransaksikan apalagi yang tidakditransaksikan antar-dua
negara. Jadi, perbedaan hargaminyak di Indonesia dengan harganya di Malaysia
atauThailand sama sekali tidak menjadi tolok ukur apa-apabagi suatu tindakan
atau peraturan untuk menaikkanharga BBM seperti yang dinyanyikan Budiono.Apakah
subsidi yang sebenarnya fiktif saja dinikmatipara pemakai BBM di Indonesia akan
turun atauditurunkan Budiono, sekiranya nanti harga minyak turunmenjadi $90 per
barrel, dan apakah harga BBM diIndonesia akan sekaligus diturunkan Budiono dan
dalampada itu subsidi APBN akan diturunkan pula oleh SriMulyani?Bagaimana harga
BBM akan diturunkan apa tidak, jikakurs Rupiah menjadi Rp 10 000 atau Rp 7 000
perdollar? Kan menurut Budiono perubahan kurs dan dengandemikian perbandingan
antara harga BBM dalam negeriIndonesia dan harga BBM di Thailand atau Laos
akanlangsung berubah dan diubah Budiono?Begitu pula, tidak ada hubungan BLT
dengan subisidifiktif yang seolah-olah dinikmati para pemilik mobilber-AC dan
motor. Subsidi BLT berlangsung bukannyadiambil dari dana subsidi fiktif tadi
seperti yangdikemukakan Jusuf Kalla dan Chatib dinikmati oleh parapemilik mobil
dan motor, tapi langsung dikeluarkandari APBN.Menurut Sri Mulyani subsidi
tersebut dialokasikansebagai dana kompensasi bagi orang miskin, walaupunmakna
kompensasi tersebut ditukang-tukangi berbedadari arti lazimnya. Apalagi, BLT
sendiri melanggarprinsip dan hukum ekonomi karena bantuan tersebut baikdari segi
sosial dan lebih-lebih dari sudut ekonomimerupakan tindakan tolol dan keliru
total.Jika harga BBM tidak dinaikkan BLT tidak akandiberikan sebagai bantuan
bagi fakir miskin. Artinya,golongan miskin yang memperoleh BLT tidak
pernahdipedulikan Sri Mulyani sebelumnya. Kenapa justrusekarang orang miskin
tersebut tiba-tiba menarikperhatian Sri Mulyani untuk diberikan
kompensasiseolah-olah mereka tiba-tiba saja ditimpa kemalangan.Dan mereka
sendiri dan bukan korban langsung darikenaikan harga BBM. Sedang korban langsung
darikenaikan harga BBM, yakni para nelayan, pemakai jasatransport, perusahaan
transport dan industri serta PLNdll tidak diberi kompensasi? Penderitaan
korbanlangsung ini sama sekali dicuekkan dan dicoret begitusaja dalam catataan
Sri Mulyani, asalkan difisitAPBN-nya bisa ditutupinya dengan kenaikan harga
BBM,walaupun bukan seluruhnya tapi sebagiannya saja. Iniartinya, Sri Mulyani
-ahli fiskal pura-pura ini-hendak berdansa gembira ria diatas kerangka
deritarakyat.Sri Mulyani sama sekali tidak menyadari bahwa dampaknegatif makro
ekonomi dari keseluruhan subsidi APBN(termasuk BLT) -yang terutama ditimbulkan
olehkeharusannya memberi subsidi bantuan triliunan Rupiahbagi bandit-bandit
tengik Pertamina- yang sedemikianbesarnya hingga justru menciptakan kemiskinan
yanglebih parah lagi bagi rakyat seluruhnya, termasuk sipenerima BLT
sendiri.Menurut hukum ekonomi-makro: Memperbesar subsidiseperti yang dilakukan
Sri Mulyani, berarti memperluaskonsumsi aggregate yang pada gilirannya otomatis
akanmenurunkan investasi aggregate. Turunnya investasitersebut akan
mengakibatkan penurunan produksinasional dan pendapatan nasional yang berarti
pulabahwa kemiskinan rakyat justru akan lebih diperparahlagi . terkecuali
PERTAMINA.Deficit-financing bagi negara-negara berkembang timbulbila dalam
keadaan ekonomi terpuruk Pemerintah merekaharus melakukan tambahan investasi.
Tapideficit-financing APBN Indonesia timbul terutamakarena Sri Mulyani harus
memberi bantuan subsidi bagiPertamina, yang ternyata hanya subsidi palsu
danterselubung bagi Pertamina supaya perusahaan tersebutdapat meraub laba untuk
dibagi-bagikan ke sana kemari.Mengapa Pertamina Bajingan dan Lintah Darat
Penghisapdarah Rakyat Miskin?Teori permintaan di satu pihak sedianya
dapatmenjelaskan perilaku para konsumen bagi produkPertamina. Dapat disebutkan
empat faktor fundamentalyang menentukan berapa banyak barang yang akan
dibelioleh konsumen tersebut.Pertama-tama adalah harga barang dari tiap
komoditiyang dibeli. Determinan kedua adalah besaranpendapatannya. Faktor ketiga
adalah strukturharga-harga barang-barang substitusi. Dan keempatadalah kurva
permintaan si konsumen yang bergerakberlawanan arah dengan harga barang-barang
komplemeterdari produk Pertamina.Namun, tidak perlu menyimak seluruh ke-emat
faktorpenentu dari demand tadi bagi produk Pertamina dancukup membatasinya pada
tingkat pendapatan yangmendasari permintaan. Dalam hubungan ini dengansingkat
dapat dikemukakan, bahwa akan lebih tepat danadil, jika kenaikan harga BBM di
Indonesia sekarangini dibatasi pada kenaikan harga BBM bagi yangberpendapatan
tinggi saja tanpa menaikkan -bahkanmenurunkannya- bagi yang berpendapatan
rendah.Maksudnya, supaya mereka yang memiliki mobil mewahdengan mesin 2000 cc
atau lebih dikenakan harga BBM200-300%, sedang avtur bagi maskapai
penerbangandomestik dikenakan harga 300% sambil sekaligusmempromosikan angkutan
laut dan darat yang sekarangini dalam keadaan morat marit sambil
menambahpenerimaan APBN sendiri..Di lain pihak dalam meneliti supply produk
Pertaminaanalisis kita lebih berpihak pada prinsip dan teoriharga berdasarkan
ongkos-ongkos produksi.Dalam teori supply tersebut yang paling utama
disimakseorang ekonom mengenai suatu perusahaan adalahongkos-ongkos yang
berdampak atas harga-harga relatifdari barang-barang dan alokasi jasa-jasa
produktifbagi berbagai perusahaan dan industri.Dalam hubungan ini penjelasan
harga-harga termaktubdalam teori ongkos-ongkos alternatif atau yang jugadikenal
sebagai 'opportunity costs'. Yaitu,ongkos-ongkos suatu faktor produksi X dalam
produksikomoditi A disadur dari jumlah maksimal dari produksikomoditi B, C, D
dll. Bila ongkos modal di sektor laindapat memberi laba 10%, maka yang 10%
itulah ongkosmodal di sebuah pabrik tekstil. Bila satu ha tanahmenghasilkan 5
ton padi, maka itulah ongkosnya untuktanaman tebu dalam 1 ha. Dalam hubungan ini
perludiperhitungkan juga bahwa ongkos produksi tergantungjuga dari harga barang
permintaan. Sebab, tidakmungkin menentukan ongkos (uang) dari padi sebelumkita
ketahui harga tebu. Semakin tinggi nilai produksialternatif B, C. dll dari suatu
jasa faktor produksitertentu, maka semakin tinggilah ongkosnya dalammemproduksi
A. Dengan ini berlakulah hukum ekonomiyang mengatakan bahwa ongkos factor X
dalam produksikomoditi A sama dengan nilai nilai produk-marginal Xdalam produksi
B, C, dll.Penting pula diperhatikan definisi dari 'productionfunction' yang
menentukan hubungan antara 'input' darijasa-jasa produktif dan 'output' produksi
per unitwaktu. Production functions menjabarkan teknologi atausitem organisasi
dari jasa-jasa produksi, yangdiperoleh dari disipilin ilmu lain seperti
engineeringdan industri kimiah, tapi menjadi data analisis bagiseorang ahli
ekonomi perencanaan atau pengamatekonomi. Bila 1 ha tanah -dengan bantuan
kerjasamadari unit-unit lain yang cocok dan selaras dapatmenghasilkan 5 ton
padi, maka 1/5 merupakan koeffisienproduksi dari type tanah yang menghasilkan
padiseperti itu.Dengan penjelasan teori harga yang singkat di atas inihendak
dikemukakan bahwa kemajuan dari sebuahperusahaan tergantung dari manajemen yang
menguasaiserta memegang teguh pada teori harga, permintaan danpenawaran beserta
implikasi dan komplikasinya yangdihadapi setiap perusahaan., tidak
terkecualiPertamina. Namun perusahaan ini jauh dari manajemenseperti itu.Lihat
saja kemajuan Pertamina yang jauh ketinggalandari prestasi yang dicapai
Petronas. Dengan kekayaansumber minyak kita yang begitu besar, Pertaminasedianya
bisa meraub laba yang sangat besar danseyogianya merupakan sumber pembiayaan
investasi utamadi Indonesia. Namun dana investasi yang diraihPertamina
berlangsung dan dilangsungkan oleh dan didalam dunia Pertamina sendiri saja demi
dan untukperusahaan itu sendiri. Dana investasi tersebut bukantersalur dalam
saluran 'communicating sectors', dimana Pertamina yang menjadi sektor
danasurplus-investasi tidak merupakan sumber bagitersalurnya surplus-investasiny
a tadi pada sektoryang deficit savings dan investasi pada sektor ekonomilainnya
yang menghadapi defisit tadi, yang sekalipunmenjanjikan hasil yang jauh lebih
tinggi dariperluasan investasi baru yang dijalankan Pertamina.Ini berarti bahwa
'opportunity costs' dari investasibaru dari Pertamina, katakan saja dalam rumah
sakitbintang-10, hotel-hotel, atau perusahaan asuransi dllyang dilakukan
Pertamina menciptakan ongkos produksiyang lebih tinggi berdasarkan hasil yang
sedianya bisadiperoleh oleh sebuah industri dalam sektor yang minusdalam dana
investasi. Alhasil, seperti yang kitasaksikan berlangsung selama ini, Pertamina
menjadisalah satu kendala utama dalam menciptakan'communicating sectors'
(communicerende vatan) dalamperekonomian Indonesia.Pada dasarnya, melonjaknya
harga minyak mentah menjadi$120 per barrel seharusnya menjadi sorga dan
bukanneraka bagi Indonesia.Indonesia yang menjadi net-exporter minyak
mentahseharusnya memperoleh valas yang sangat besarjumlahnya dengan tingginya
harga minyak mentah menjadi$120 per barrel, tapi tidak dapat diraihnya
karenakebuta-hurufannya atas sistem sterilisasi valas-$ danmembiarkan perusahaan
asing dan Pertamina serta Medcomemperoleh windfall profits sepenuhnya yang
sangatbesar dari naiknya harga crude oil menjadi $120 perbarrel.Kerugian kecil
bisa terjadi bagi Indonesia, karenaIndonesia menjadi net-importer BBM. Namun
kerugianinipun bisa dengan mudah ditutupi dengan windfallprofit tadi serta
melalui sistem-sterilisasi tadi.Kesimpulannya: sama sekali tidak mungkin
timbulmalapetaka minyak bagi Indonesia. Yang menjadi masalahIndonesia adalah
banditry yang berkecamuk danmerajalelai Pertramina.Kebobrokan perkembangan
Pertamina sangat unik sekali.Staf dan karyawan Pertamina menggelembung sangat
luasdengan operational costs yang menggelembung dengansendirinya, namun
Pertamina menikmati kemakmuran luarbiasa, baik dalam penggajian, pensiun
milyaran rupiahmaupun dalam fasilitas-fasilitas lukslainnya.Pokoknya, tidak ada
duanya kedudukan anak -masPertamina dalam segala hal. Pembukuan Pertamina
tidakpernah boleh diketahui Pemerintah atau di-audit olehsiapapun. Untuk itulah
diperoleh jasa-SatPam dariPurnomo Yusgiantoro dan Sofyan Djalil. Pemerintah
jugadikelabui oleh oligarki pensiunan Pertamina yang dapatsemau gue mendirikan
ratusan anak perusahaan yangmelakukan over-charge dan mark-up ongkos-ongkos
yangdibebankan pada Pertamina tanpa gangguan dari siapapun.The funniest part of
it all, Pertamina sanggupmenggelumbungkan ongkos-ongkos produksi
darikilang-kilang minyak nya yang sedemikian tingginya,hingga harus disubsidi
APBNnya Sri Mulyani tanpa adapemeriksaan terlebih dahulu atas
penggelembunganongkos-ongkos produksi Pertamina. On top of it all,Pertamina
setiap tahun bisa meraub untung raksasa yangseenaknya dibagi-bagikan ke sana ke
mari. Ketololanahli fiskal Sri Mulyani terbukti sudah, karena begitusaja
menyediakan subsidi BBM tanpa pernah terlintaspada benaknya kejadian-kejadian
janggal yangdiperhadapkan keuletan Pertamina menciptakan dirinyamenjadi benalu
tahunan atas rakyat Indonesia, yanghanya memperoleh remah-remah dari kue
nasional yangdinikmati Pertamina sama seperti benalu-benalulainnya, Bank
Indonesia dan BULOG.Bayangkan:*semua Dirut Pertamina kaya raya ala
baron-minyakTexas*semua kaca mata yang dipakai staf dan karyawanPertamina
gratisdiperoleh dari rumah sakit Pertamina.*uang pensiun dari Pertamina bisa
membeli 2-3 rumahluks dan para pensiunan diaktifkan kembali dalamratusan
anak-perusahaan yang diciptakan Pertamina.*Pertamina bisa menjual seenaknya
tanker raksasa yangsudah siap pakai*Pertamina mengangkat Menteri Budiono
menjadiKomisaris untuk mencicipi gaji buta jutaan Rupiah dariPertamina*Pertamina
mengangkat Jendral Endriartono Sutarto-teman dekat SBY-menjadi Komisaris
Utama*Pertamina menghadiahka rumah luks bagi Prof. EmilSalimSemua fasilitas
tersebut, ujung-ujungnya terpulangpada subsidi APBN-nya Sri Mulyani.Sungguh
tidak mengherankan lagi mengapa Pertamina bisamemakai dua Menteri -Purnomo
Yusgiantoro dan SofyanDjalil menjadi SatPam-nya Pertamina. Di mana di duniaini
ada perusahaan minyak yang memperalat satu apalagidua Menteri, yang dipakai
melulu dan tidak lain dantidak bukan untuk mempertahankan Pertamina
sebagaibandit-bandit 'Al Copone' yang sangat bermurah hati?Pertamina seharusnya
dipecah dan dibubarkan untukdijual pada pihak swasta.Di mana ada Bank Sentral
seperti BI yang Gubernurnyamasuk penjara; yang digantikan oleh Budiono yang
tidaktahu apa-apa mengenai ilmu moneter; yang DewanGubernurnya menciptakan
secara kolegial sebuah YayasanDana Uang Sogok Rp 100 miliar. Seyogianya BI
harusdi-retool secara total dan radikal, sedang dalam padaitu Budiono sendiri
harus dipecat.Di mana ada Menteri Keuangan yang menaikkan harga BBMdemi
kesejahteraan perusahaan-minyak tapi yangmenyengsarakan rakyat dan
membagi-bagikan bantuan BLTyang dilindungi Menteri Dalam Negeri dan
Kapolri?Seyogianya Sri Mulyani harus rela berhenti atauterpaksa
diberhentikan.Sungguh benarlah Republik ini sudah TERKUTUK menjadiNegara
Bego.Namun, siapa bilang Rakyat Indonesia dan parademonstran anti kenaikan harga
BBM bisa dan maudiperlakukan sebagai sudah bego juga? NEVER, NONEVER!!!


