<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377</id><updated>2011-04-21T14:49:14.665-07:00</updated><category term='minangkabaui'/><title type='text'>tiku putra</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-6952348834951833959</id><published>2009-02-08T06:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-08T06:56:15.336-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>fenomena situs&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INILAH.COM, Jakarta – Situs paling fenomenal, Facebook pekan ini berulang tahun kelima. Banyak yang tak menyangka Facebook dibuat remaja 19 tahun Mark Zuckerberg. Ia pun kaya mendadak dengan pundi US$ 1,5 miliar. Facebook juga ditaksir berharga US$ 15 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka situs yang awalnya hanya digunakan beberapa mahasiswa agar tetap bisa saling berhubungan, saat ini telah menjadi bisnis triliunan rupiah. Facebook menjadi fenomena global, karena 15 juta user di seluruh dunia mengupdate statusnya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark Zuckerberg saat memulai Facebook dari asramanya di Harvard pada 2004 masih berumur 19 tahun. Hanya dalam hitungan 24 jam, lebih dari 1.000 orang teman kuliahnya di Harvard ikut mendaftar di situs jaringan sosialnya itu. Hanya dalam tempo satu bulan, setengah mahasiswa di kampus itu telah memiliki profile di Facebook.&lt;br /&gt;Lima tahun berlalu, situs ini kini memiliki 150 juta user di seluruh dunia. Dan Zuckerberg yang kini berumur 24 tahun telah jadi miliader termuda di planet kita. Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$ 1,5 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Time juga memasukkan Zuckerberg dalam daftar 100 orang yang berpengaruh di muka bumi pada 2008. Craig Newmark pendiri situs iklan baris Craigslist yang juga fenomenal, menyebut Zuckerberg telah menemukan sarana jaringan sosial yang tidak hanya merefleksikan kehidupan tapi lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan MySpace dan Bebo, Facebook membawa jaringan sosial makin popular. Selebriti pun tak segan ikut di dalamnya, termasuk politisi dan bisnisman top.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan yang ditampilkan di situs Facebook terbaru, 15 juta user mengupdate statusnya setiap hari. Selain itu lebih dari 850 juta foto ditambahkan ke situs itu tiap bulan, dengan rata-rata teman yang dimiliki user mencapai 120 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook pula yang mengantarkan Barack Obama memenangi pemilihan umum AS pada tahun lalu. Obama berhasil menarik pemilih muda melalui Facebook yang sebelumnya kurang mendapat perhatian dari kandidat. Dalam blog menandai ulang tahun Facebook, Zuckerberg mengatakan telah membuat dunia makin terbuka dan makin mudah bagi orang menyuarakan aspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama lima tahun terakhir kultur internet juga berubah. Sebelumnya orang malas mengumbar identitas aslinya secara online. Tapi Facebook menawarkan lingkungan yang aman dan terpercaya untuk berinteraksi secara online dan membuat jutaan orang nyaman mengekspresikan dirinya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun masih kontroversi, tapi harga situs Facebook diperkirakan sangat luar biasa. Perusahaan ini berhasil menarik lebih dari US$ 200 juta uang investor pada 2006. Facebook juga berani menolak tawaran US$ 1 miliar dari Yahoo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2007 Microsoft membayar US$ 250 juta hanya untuk 1,6% kepemilikan saham. Jika ditotal, harga Facebook bisa mencapai US$ 15 miliar. Tapi krisis global yang menghantam bisnis iklan online yang merupakan sumber pendapatan utama Facebook, bisa membuat harganya turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Facebook belum mengalami sukses terbesarnya. Ia menjual iklan dan bisa menghasilkan pendapatan, tapi keuntungannya tidak luar biasa meskipun dia menguntungkan,” kata analis Adam Lashinsky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang meragukan Facebook sangat popular, tapi tidak berarti perkembangannya sangat luar biasa dan bisa menjadi mega bisnis semacam Google, Microsoft atau bahkan seperti pesaingnya MySpace," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook bukan tanpa antisipasi. Karena industri seperti ini bergerak sangat cepat, Mark Zuckerberg mengatakan dia terus berkomitmen membuat Facebook tetap relevan di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membangun dan bergerak cepat selama lima tahun terakhir tidak mudah dan kami belum selesai. Tantangan memotivasi kami untuk terus inovatif dan membongkar hambatan teknis untuk menghasilkan cara yang lebih baik untuk berbagi informasi,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kira-kira bakal seperti apa di ulang tahun Facebook tahun depan. Apakah situs ini bakal tutup karena kurangnya iklan akibat krisis global? Ataukah makin marak dengan layanan yang telah mengalami penyempurnaan. [E1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA TERKAIT&lt;br /&gt;    * Waduh, Del Piero Tuntut ‘Facebook’!    * 2009, Mazda Targetkan 1.700 Unit    * Mazda2 Mau Mengusik Jazz    * 2009 Mazda Targetkan 25-30 Dealer    * Hore! Mazda Masuk Facebook    * Anti Tuhan Galang Massa di Facebook    * Fenomena Facebook Senilai US$15 Miliar    * Tidak Hanya ABG Kecanduan Facebook    * Pencuri Tertangkap Gara-gara Facebook    * Facebook Tutup Halaman Bos Mafia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.inilah.com/berita/teknologi/2009/02/07/81839/facebook-fenomena-us$-15-miliar/" target="_blank" rel="nofollow"&gt;http://www.inilah.com/berita/teknologi/2009/02/07/81839/facebook-fenomena-us$-15-miliar/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-6952348834951833959?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/6952348834951833959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=6952348834951833959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/6952348834951833959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/6952348834951833959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2009/02/fenomena-situs-inilah.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-7530239349820944023</id><published>2008-06-12T12:15:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T12:17:25.630-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;Telah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;Terbit&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;Salah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;satu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;buku&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;wajib&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;dibaca&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;kalangan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;sejarawan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;akademisidan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;aktivis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;sosial&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;di&lt;/span&gt; Indonesia:&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;NUSANTARAKarya&lt;/span&gt; Bernard &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;VlekkeKepustakaan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;Populer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;Gramedia&lt;/span&gt; (&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;KPG&lt;/span&gt;)&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;Terbit&lt;/span&gt;: Mei 2008www.khatulistiwa.netNusantara &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;merupakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;salah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;deskripsi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;sejarah&lt;/span&gt; Indonesia &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;yangditulis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;secara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;mendalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;populer&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;Kendati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;buku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;terbit&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;pertamapada&lt;/span&gt; 1943, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;banyak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_36"&gt;hal&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_37"&gt;hal&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_38"&gt;disampaikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_39"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_40"&gt;Vlekke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_41"&gt;aktual&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_42"&gt;sampaiabad&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_43"&gt;ke&lt;/span&gt;-21. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_44"&gt;Berbeda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_45"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_46"&gt;buku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_47"&gt;sejarah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_48"&gt;selebihnya&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_49"&gt;Vlekke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_50"&gt;menampilkanproses&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_51"&gt;sejarah&lt;/span&gt; Indonesia &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_52"&gt;tanpa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_53"&gt;terlalu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_54"&gt;memusatkan&lt;/span&gt; proses&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_55"&gt;padaperluasan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_56"&gt;kolonialisasi&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_57"&gt;Dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_58"&gt;buku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_59"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_60"&gt;Vlekke&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_61"&gt;misalnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_62"&gt;memaparkan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_63"&gt;bahwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_64"&gt;perang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_65"&gt;agama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_66"&gt;sangatlangka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_67"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_68"&gt;Jawa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_69"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_70"&gt;boleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_71"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_72"&gt;penyebabnya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_73"&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_74"&gt;sinkretismeterpelihara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_75"&gt;sejak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_76"&gt;zaman&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_77"&gt;dulu&lt;/span&gt;. Ada &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_78"&gt;kisah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_79"&gt;kegagalan&lt;/span&gt; Sultan&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_80"&gt;Agungmenyatukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_81"&gt;Nusantara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_82"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_83"&gt;tak&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_84"&gt;punya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_85"&gt;angkatan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_86"&gt;laut&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_87"&gt;memadai&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_88"&gt;Kisah&lt;/span&gt; lain&lt;br /&gt;yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_89"&gt;langka&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_90"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_91"&gt;perubahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_92"&gt;tabiat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_93"&gt;orang&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_94"&gt;Belanda&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_95"&gt;yangrajin&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_96"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_97"&gt;tanah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_98"&gt;airnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Homo &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_99"&gt;batavus&lt;/span&gt;), &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_100"&gt;namun&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_101"&gt;jadi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_102"&gt;pemalas&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_103"&gt;ketikatinggal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_104"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_105"&gt;Batavia&lt;/span&gt; (Homo&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_106"&gt;bataviensis&lt;/span&gt;).&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_107"&gt;Edisi&lt;/span&gt; Indonesia &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_108"&gt;buku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_109"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_110"&gt;merupakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_111"&gt;terjemahan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_112"&gt;edisi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_113"&gt;revisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1963.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_114"&gt;Penulis&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_115"&gt;menyajikan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_116"&gt;sejarah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_117"&gt;Nusantara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_118"&gt;secara&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_119"&gt;populer&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_120"&gt;Oleh&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_121"&gt;karena&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_122"&gt;itu&lt;/span&gt;,&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_123"&gt;buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_124"&gt;ini&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_125"&gt;seolah&lt;/span&gt;-&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_126"&gt;olah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_127"&gt;berisi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_128"&gt;dongeng&lt;/span&gt; Indonesia &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_129"&gt;pada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_130"&gt;masa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_131"&gt;silam&lt;/span&gt;. &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_132"&gt;Pembacamuda&lt;/span&gt; Indonesia&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_133"&gt;dapat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_134"&gt;dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_135"&gt;mudah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_136"&gt;memahami&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_137"&gt;kisah&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_138"&gt;ditampilkandalam&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_139"&gt;buku&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_140"&gt;ini&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_141"&gt;Jika&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_142"&gt;ingin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_143"&gt;membelinya&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_144"&gt;kunjungi&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_145"&gt;toko&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_146"&gt;buku&lt;/span&gt; online www.khatulistiwa.net.Untuk Jakarta &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_147"&gt;buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_148"&gt;diantar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_149"&gt;dan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_150"&gt;bisa&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_151"&gt;bayar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_152"&gt;di&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_153"&gt;tempat&lt;/span&gt;.&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_154"&gt;Khatulistiwa&lt;/span&gt; Onlinewww.khatulistiwa.net&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-7530239349820944023?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/7530239349820944023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=7530239349820944023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/7530239349820944023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/7530239349820944023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2008/06/telah-terbit-salah-satu-buku-yang-wajib.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-4532630516528059142</id><published>2008-06-12T12:05:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T12:13:24.212-07:00</updated><title type='text'>Ketololan Menteri Ekonomi</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;NEGARA INDONESIA INI TERKUTUK MENGULANGI KESALAHANSEJARAHNYA, KARENA TIDAK&lt;br /&gt;BELAJAR DARI KESALAHANSEJARAHNYA YANG LAMPAU. (paraphrase ucapan Anwar&lt;br /&gt;Sadat)Kesarjanaan Tinggi. Team Ekonomi Kabinet SBY, khususnya Budiono,&lt;br /&gt;SriMulyani, tapi juga Purnomo Yusgiantoro dan SofyanDjalil, sekalipun menyandang&lt;br /&gt;tingkat kesarjaan ekonomitertinggi dan lulusan dari Universitas tersohor&lt;br /&gt;diAmerika Serikat, namun membingungkan, mengapa merekamelakukan kesalahan&lt;br /&gt;fundamental melenceng dari teoridan hukum ekonomi elementer sekalipun.Anak SMEA&lt;br /&gt;sendiri, tahu benar bahwa harga, permintaandan penawaran berhubungan fungsional&lt;br /&gt;satu sama lain.Bila permintaan naik harga akan naik atau bilapenawaran naik&lt;br /&gt;harga akan turun. Atau bila harga naik,maka permintaan akan turun pada suatu&lt;br /&gt;tingkatkeseimbangan di mana jumlah permintaan akan samadengan jumlah&lt;br /&gt;penawaran.Namun dalam hal kenaikan harga BBM, 24-5-2008, prinsipelementer&lt;br /&gt;ekonomi tersebut diabaikan total oleh TeamEkonomi Kabinet SBY.Timbul pertanyaan&lt;br /&gt;apakah kesarjanaan Team ini bukanyang dikatrol oleh 'CIA'-Ford Foundation belaka&lt;br /&gt;dalam'Mafia Berkeley' yang disetir dan sudah diperhitungkandari semula akan&lt;br /&gt;berkuasa kelak di Indonesia? (Soal'Mafia Berkeley' ini sudah dikupas dalam buku&lt;br /&gt;'TsunamiBangsa Ini' terbitan LSKN).Siapa yang tidak penasaran menyaksikan&lt;br /&gt;ketololan dariTeam Ekonomi Kabinet SBY ini yang -tanpa dasar danprinip ekonomi-&lt;br /&gt;begitu tega menaikkan harga BBM yangmenyengsarakan rakyat kecil, sambil menutupi&lt;br /&gt;kejahatanmereka tersebut dengan menyandiwarakan jiwa sosialyang pura-pura sangat&lt;br /&gt;tinggi terhadap rakyat denganmenyalurkan subsidi BLT-'ratusan perak' yang&lt;br /&gt;tidakberarti apa-apa. Namun tidak dapat disangkal bahwa BLTdiciptakan hanya&lt;br /&gt;untuk menutup-nutupi'triliunan-perak' subisidi lain dari APBN yangdisalurkan&lt;br /&gt;seenaknya oleh Sri Mulyani . Menterikeuangan ini justru menganggap dirinya&lt;br /&gt;seorangahli-fiskal, padahal dia ahli-pembukukuan- elementer(boekhouding) pun&lt;br /&gt;tidak! Masa' menghadapi lonjakanharga minyak di atas $120 per barrel, Sri&lt;br /&gt;Mulyanimerumuskan 86 skenario untuk ditentukan pilihannyaoleh Presiden? Dalam&lt;br /&gt;republik negara hukum iniUndang-Undang Dasar Pasal 31, (4) sendiri&lt;br /&gt;bisadilanggarnya mentah-mentah, bebas sebebas-bebasnyadengan&lt;br /&gt;'impunity'.Pelanggaran Prinsip-Hukum Harga dalam Kenaikkan HargaBBM dan&lt;br /&gt;Pemberian BLT.Prof. DR Budiono menyanyikan teori harga ngawur:Pemerintah akan&lt;br /&gt;menyamakan harga BBM di dalam negeridengan harga minyak di pasar internasional.&lt;br /&gt;Inidilakukan karena anggaran subsidi (APBN) akan ditekanlebih rendah dan&lt;br /&gt;Pemerintah ingin menyerahkan hargaBBM pada penyesuaian otomatis dengan harga&lt;br /&gt;dunia. Pada15 Mei 2008, harga jual di Indonesia hanya sebesar Rp4500 per liter.&lt;br /&gt;Dengan kenaikan sekitar 30%, hargajual premium per liter menjadi Rp 6000 per&lt;br /&gt;liter.Artinya, Pemerintah akan menyubsidi Rp 3450 per liter.Prof.Chatib Basri&lt;br /&gt;dari Univ. Indonesia dan LPEM-UImenyajikan teori fiktif: Subsidi BBM per liter&lt;br /&gt;adalahRp 4100 (selisih antara harga internasional premium Rp8600 dan harga&lt;br /&gt;domestik kepada pemilik mobil adalah Rp4100 per hari atau Rp 1,200 000 per&lt;br /&gt;bulan.Mereka yang tidak memiliki mobil atau motor,memperoleh subsidi BBM melalui&lt;br /&gt;transportasi murah.Salahkah jika dari subsidi yang lebih dari Rp 1,200000 itu&lt;br /&gt;dialokasikan Rp 100 000 sebulannya bagipenduduk miskin?DR Jusuf Kalla&lt;br /&gt;ceplas-ceplos mengedepankan teorisaudagarnya: Harga BBM harus naik. Kalau harga&lt;br /&gt;BBM taknaik, yang menikmati subsidi itu ialah yang banyakmobil dan yang pakai&lt;br /&gt;AC.Teori konyol ini mengingatkan kita kembali padaMenteri Pasar Rumput Mari&lt;br /&gt;Pangestu yang mengarangteori 'operasi-pasar' bohong-bohongan:Saya tidak bisa&lt;br /&gt;menurunkan harga selain dari memberisubsidi bagi orang miskin, dan untuk itu&lt;br /&gt;saya pribadiharus turun ke Pasar Rumput -di Jakarta, Indramayu,Surabaya dll&lt;br /&gt;untuk membagi-bagikan sembako bersubsiditapi bagi yang sangat miskin saja.&lt;br /&gt;Padahal Menteri inidengan mudah bisa menurunkan harga seperti biasanyadengan&lt;br /&gt;menambah supply, namun tidak boleh dilakukannyakarena harus membantu usaha&lt;br /&gt;benalu BULOG memiskinkanpara petani. Minyak goreng juga harus saya subsidibagi&lt;br /&gt;orang miskin. Padahal Mari Pangestu bisa dengangampang sekali menambah pasokan&lt;br /&gt;(Indonesia adalahproducer CPO terbesar di dunia). Tapi, oleh karenatelah menjadi&lt;br /&gt;SatPamnya Eka Tjipta -rajanya minyakgoreng- yang mengambil kesempatan dari&lt;br /&gt;melonjaknyaharga CPO dan minyak goreng di pasar dunia- MenteriPasar Rumput ini&lt;br /&gt;dipaksa oleh bossnya untuk membatasipasokan dalam negeri.Ketiga ahli-ahli&lt;br /&gt;ekonomi di atas tadi tidak menyadaridan sama sekali tidak mengerti, mengapa&lt;br /&gt;kenaikan hargaBBM harus mereka selewengkan dan lepaskan dari prinsipdan hukum&lt;br /&gt;ekonomi harga yang lazim, tapimendasarkannya melulu pada harga minyak dalam&lt;br /&gt;pasarinternasional di Malaysia, Thailand, Amerika Serikatdsb dsb.Sebab,&lt;br /&gt;pembentukan harga minyak atau barang apa sajapada setiap negara berlangsung&lt;br /&gt;mandiri dengan sstemdan struktur harga domestik masing-masing tanpa pernahada&lt;br /&gt;hubungan satu sama lain. Kalaupun dalam teoriperdagangan internasional, pernah&lt;br /&gt;dilakukanperbandingan antara harga barang-barang domestik yangsatu dengan&lt;br /&gt;harga-harga domestik yang lain, tindakansedemikian terbatas hanya pada usaha&lt;br /&gt;untuk memperolehtingkat kurs mata uang dalam hubungan transaksi&lt;br /&gt;valasantar-negara. Tapi tindakan seperti itu tidak pernahdilakukan dan&lt;br /&gt;dipertimbangkan dalam memperbandingkanharga minyak atau satu per satu harga&lt;br /&gt;barang lain,baik yang ditransaksikan apalagi yang tidakditransaksikan antar-dua&lt;br /&gt;negara. Jadi, perbedaan hargaminyak di Indonesia dengan harganya di Malaysia&lt;br /&gt;atauThailand sama sekali tidak menjadi tolok ukur apa-apabagi suatu tindakan&lt;br /&gt;atau peraturan untuk menaikkanharga BBM seperti yang dinyanyikan Budiono.Apakah&lt;br /&gt;subsidi yang sebenarnya fiktif saja dinikmatipara pemakai BBM di Indonesia akan&lt;br /&gt;turun atauditurunkan Budiono, sekiranya nanti harga minyak turunmenjadi $90 per&lt;br /&gt;barrel, dan apakah harga BBM diIndonesia akan sekaligus diturunkan Budiono dan&lt;br /&gt;dalampada itu subsidi APBN akan diturunkan pula oleh SriMulyani?Bagaimana harga&lt;br /&gt;BBM akan diturunkan apa tidak, jikakurs Rupiah menjadi Rp 10 000 atau Rp 7 000&lt;br /&gt;perdollar? Kan menurut Budiono perubahan kurs dan dengandemikian perbandingan&lt;br /&gt;antara harga BBM dalam negeriIndonesia dan harga BBM di Thailand atau Laos&lt;br /&gt;akanlangsung berubah dan diubah Budiono?Begitu pula, tidak ada hubungan BLT&lt;br /&gt;dengan subisidifiktif yang seolah-olah dinikmati para pemilik mobilber-AC dan&lt;br /&gt;motor. Subsidi BLT berlangsung bukannyadiambil dari dana subsidi fiktif tadi&lt;br /&gt;seperti yangdikemukakan Jusuf Kalla dan Chatib dinikmati oleh parapemilik mobil&lt;br /&gt;dan motor, tapi langsung dikeluarkandari APBN.Menurut Sri Mulyani subsidi&lt;br /&gt;tersebut dialokasikansebagai dana kompensasi bagi orang miskin, walaupunmakna&lt;br /&gt;kompensasi tersebut ditukang-tukangi berbedadari arti lazimnya. Apalagi, BLT&lt;br /&gt;sendiri melanggarprinsip dan hukum ekonomi karena bantuan tersebut baikdari segi&lt;br /&gt;sosial dan lebih-lebih dari sudut ekonomimerupakan tindakan tolol dan keliru&lt;br /&gt;total.Jika harga BBM tidak dinaikkan BLT tidak akandiberikan sebagai bantuan&lt;br /&gt;bagi fakir miskin. Artinya,golongan miskin yang memperoleh BLT tidak&lt;br /&gt;pernahdipedulikan Sri Mulyani sebelumnya. Kenapa justrusekarang orang miskin&lt;br /&gt;tersebut tiba-tiba menarikperhatian Sri Mulyani untuk diberikan&lt;br /&gt;kompensasiseolah-olah mereka tiba-tiba saja ditimpa kemalangan.Dan mereka&lt;br /&gt;sendiri dan bukan korban langsung darikenaikan harga BBM. Sedang korban langsung&lt;br /&gt;darikenaikan harga BBM, yakni para nelayan, pemakai jasatransport, perusahaan&lt;br /&gt;transport dan industri serta PLNdll tidak diberi kompensasi? Penderitaan&lt;br /&gt;korbanlangsung ini sama sekali dicuekkan dan dicoret begitusaja dalam catataan&lt;br /&gt;Sri Mulyani, asalkan difisitAPBN-nya bisa ditutupinya dengan kenaikan harga&lt;br /&gt;BBM,walaupun bukan seluruhnya tapi sebagiannya saja. Iniartinya, Sri Mulyani&lt;br /&gt;-ahli fiskal pura-pura ini-hendak berdansa gembira ria diatas kerangka&lt;br /&gt;deritarakyat.Sri Mulyani sama sekali tidak menyadari bahwa dampaknegatif makro&lt;br /&gt;ekonomi dari keseluruhan subsidi APBN(termasuk BLT) -yang terutama ditimbulkan&lt;br /&gt;olehkeharusannya memberi subsidi bantuan triliunan Rupiahbagi bandit-bandit&lt;br /&gt;tengik Pertamina- yang sedemikianbesarnya hingga justru menciptakan kemiskinan&lt;br /&gt;yanglebih parah lagi bagi rakyat seluruhnya, termasuk sipenerima BLT&lt;br /&gt;sendiri.Menurut hukum ekonomi-makro: Memperbesar subsidiseperti yang dilakukan&lt;br /&gt;Sri Mulyani, berarti memperluaskonsumsi aggregate yang pada gilirannya otomatis&lt;br /&gt;akanmenurunkan investasi aggregate. Turunnya investasitersebut akan&lt;br /&gt;mengakibatkan penurunan produksinasional dan pendapatan nasional yang berarti&lt;br /&gt;pulabahwa kemiskinan rakyat justru akan lebih diperparahlagi . terkecuali&lt;br /&gt;PERTAMINA.Deficit-financing bagi negara-negara berkembang timbulbila dalam&lt;br /&gt;keadaan ekonomi terpuruk Pemerintah merekaharus melakukan tambahan investasi.&lt;br /&gt;Tapideficit-financing APBN Indonesia timbul terutamakarena Sri Mulyani harus&lt;br /&gt;memberi bantuan subsidi bagiPertamina, yang ternyata hanya subsidi palsu&lt;br /&gt;danterselubung bagi Pertamina supaya perusahaan tersebutdapat meraub laba untuk&lt;br /&gt;dibagi-bagikan ke sana kemari.Mengapa Pertamina Bajingan dan Lintah Darat&lt;br /&gt;Penghisapdarah Rakyat Miskin?Teori permintaan di satu pihak sedianya&lt;br /&gt;dapatmenjelaskan perilaku para konsumen bagi produkPertamina. Dapat disebutkan&lt;br /&gt;empat faktor fundamentalyang menentukan berapa banyak barang yang akan&lt;br /&gt;dibelioleh konsumen tersebut.Pertama-tama adalah harga barang dari tiap&lt;br /&gt;komoditiyang dibeli. Determinan kedua adalah besaranpendapatannya. Faktor ketiga&lt;br /&gt;adalah strukturharga-harga barang-barang substitusi. Dan keempatadalah kurva&lt;br /&gt;permintaan si konsumen yang bergerakberlawanan arah dengan harga barang-barang&lt;br /&gt;komplemeterdari produk Pertamina.Namun, tidak perlu menyimak seluruh ke-emat&lt;br /&gt;faktorpenentu dari demand tadi bagi produk Pertamina dancukup membatasinya pada&lt;br /&gt;tingkat pendapatan yangmendasari permintaan. Dalam hubungan ini dengansingkat&lt;br /&gt;dapat dikemukakan, bahwa akan lebih tepat danadil, jika kenaikan harga BBM di&lt;br /&gt;Indonesia sekarangini dibatasi pada kenaikan harga BBM bagi yangberpendapatan&lt;br /&gt;tinggi saja tanpa menaikkan -bahkanmenurunkannya- bagi yang berpendapatan&lt;br /&gt;rendah.Maksudnya, supaya mereka yang memiliki mobil mewahdengan mesin 2000 cc&lt;br /&gt;atau lebih dikenakan harga BBM200-300%, sedang avtur bagi maskapai&lt;br /&gt;penerbangandomestik dikenakan harga 300% sambil sekaligusmempromosikan angkutan&lt;br /&gt;laut dan darat yang sekarangini dalam keadaan morat marit sambil&lt;br /&gt;menambahpenerimaan APBN sendiri..Di lain pihak dalam meneliti supply produk&lt;br /&gt;Pertaminaanalisis kita lebih berpihak pada prinsip dan teoriharga berdasarkan&lt;br /&gt;ongkos-ongkos produksi.Dalam teori supply tersebut yang paling utama&lt;br /&gt;disimakseorang ekonom mengenai suatu perusahaan adalahongkos-ongkos yang&lt;br /&gt;berdampak atas harga-harga relatifdari barang-barang dan alokasi jasa-jasa&lt;br /&gt;produktifbagi berbagai perusahaan dan industri.Dalam hubungan ini penjelasan&lt;br /&gt;harga-harga termaktubdalam teori ongkos-ongkos alternatif atau yang jugadikenal&lt;br /&gt;sebagai 'opportunity costs'. Yaitu,ongkos-ongkos suatu faktor produksi X dalam&lt;br /&gt;produksikomoditi A disadur dari jumlah maksimal dari produksikomoditi B, C, D&lt;br /&gt;dll. Bila ongkos modal di sektor laindapat memberi laba 10%, maka yang 10%&lt;br /&gt;itulah ongkosmodal di sebuah pabrik tekstil. Bila satu ha tanahmenghasilkan 5&lt;br /&gt;ton padi, maka itulah ongkosnya untuktanaman tebu dalam 1 ha. Dalam hubungan ini&lt;br /&gt;perludiperhitungkan juga bahwa ongkos produksi tergantungjuga dari harga barang&lt;br /&gt;permintaan. Sebab, tidakmungkin menentukan ongkos (uang) dari padi sebelumkita&lt;br /&gt;ketahui harga tebu. Semakin tinggi nilai produksialternatif B, C. dll dari suatu&lt;br /&gt;jasa faktor produksitertentu, maka semakin tinggilah ongkosnya dalammemproduksi&lt;br /&gt;A. Dengan ini berlakulah hukum ekonomiyang mengatakan bahwa ongkos factor X&lt;br /&gt;dalam produksikomoditi A sama dengan nilai nilai produk-marginal Xdalam produksi&lt;br /&gt;B, C, dll.Penting pula diperhatikan definisi dari 'productionfunction' yang&lt;br /&gt;menentukan hubungan antara 'input' darijasa-jasa produktif dan 'output' produksi&lt;br /&gt;per unitwaktu. Production functions menjabarkan teknologi atausitem organisasi&lt;br /&gt;dari jasa-jasa produksi, yangdiperoleh dari disipilin ilmu lain seperti&lt;br /&gt;engineeringdan industri kimiah, tapi menjadi data analisis bagiseorang ahli&lt;br /&gt;ekonomi perencanaan atau pengamatekonomi. Bila 1 ha tanah -dengan bantuan&lt;br /&gt;kerjasamadari unit-unit lain yang cocok dan selaras dapatmenghasilkan 5 ton&lt;br /&gt;padi, maka 1/5 merupakan koeffisienproduksi dari type tanah yang menghasilkan&lt;br /&gt;padiseperti itu.Dengan penjelasan teori harga yang singkat di atas inihendak&lt;br /&gt;dikemukakan bahwa kemajuan dari sebuahperusahaan tergantung dari manajemen yang&lt;br /&gt;menguasaiserta memegang teguh pada teori harga, permintaan danpenawaran beserta&lt;br /&gt;implikasi dan komplikasinya yangdihadapi setiap perusahaan., tidak&lt;br /&gt;terkecualiPertamina. Namun perusahaan ini jauh dari manajemenseperti itu.Lihat&lt;br /&gt;saja kemajuan Pertamina yang jauh ketinggalandari prestasi yang dicapai&lt;br /&gt;Petronas. Dengan kekayaansumber minyak kita yang begitu besar, Pertaminasedianya&lt;br /&gt;bisa meraub laba yang sangat besar danseyogianya merupakan sumber pembiayaan&lt;br /&gt;investasi utamadi Indonesia. Namun dana investasi yang diraihPertamina&lt;br /&gt;berlangsung dan dilangsungkan oleh dan didalam dunia Pertamina sendiri saja demi&lt;br /&gt;dan untukperusahaan itu sendiri. Dana investasi tersebut bukantersalur dalam&lt;br /&gt;saluran 'communicating sectors', dimana Pertamina yang menjadi sektor&lt;br /&gt;danasurplus-investasi tidak merupakan sumber bagitersalurnya surplus-investasiny&lt;br /&gt;a tadi pada sektoryang deficit savings dan investasi pada sektor ekonomilainnya&lt;br /&gt;yang menghadapi defisit tadi, yang sekalipunmenjanjikan hasil yang jauh lebih&lt;br /&gt;tinggi dariperluasan investasi baru yang dijalankan Pertamina.Ini berarti bahwa&lt;br /&gt;'opportunity costs' dari investasibaru dari Pertamina, katakan saja dalam rumah&lt;br /&gt;sakitbintang-10, hotel-hotel, atau perusahaan asuransi dllyang dilakukan&lt;br /&gt;Pertamina menciptakan ongkos produksiyang lebih tinggi berdasarkan hasil yang&lt;br /&gt;sedianya bisadiperoleh oleh sebuah industri dalam sektor yang minusdalam dana&lt;br /&gt;investasi. Alhasil, seperti yang kitasaksikan berlangsung selama ini, Pertamina&lt;br /&gt;menjadisalah satu kendala utama dalam menciptakan'communicating sectors'&lt;br /&gt;(communicerende vatan) dalamperekonomian Indonesia.Pada dasarnya, melonjaknya&lt;br /&gt;harga minyak mentah menjadi$120 per barrel seharusnya menjadi sorga dan&lt;br /&gt;bukanneraka bagi Indonesia.Indonesia yang menjadi net-exporter minyak&lt;br /&gt;mentahseharusnya memperoleh valas yang sangat besarjumlahnya dengan tingginya&lt;br /&gt;harga minyak mentah menjadi$120 per barrel, tapi tidak dapat diraihnya&lt;br /&gt;karenakebuta-hurufannya atas sistem sterilisasi valas-$ danmembiarkan perusahaan&lt;br /&gt;asing dan Pertamina serta Medcomemperoleh windfall profits sepenuhnya yang&lt;br /&gt;sangatbesar dari naiknya harga crude oil menjadi $120 perbarrel.Kerugian kecil&lt;br /&gt;bisa terjadi bagi Indonesia, karenaIndonesia menjadi net-importer BBM. Namun&lt;br /&gt;kerugianinipun bisa dengan mudah ditutupi dengan windfallprofit tadi serta&lt;br /&gt;melalui sistem-sterilisasi tadi.Kesimpulannya: sama sekali tidak mungkin&lt;br /&gt;timbulmalapetaka minyak bagi Indonesia. Yang menjadi masalahIndonesia adalah&lt;br /&gt;banditry yang berkecamuk danmerajalelai Pertramina.Kebobrokan perkembangan&lt;br /&gt;Pertamina sangat unik sekali.Staf dan karyawan Pertamina menggelembung sangat&lt;br /&gt;luasdengan operational costs yang menggelembung dengansendirinya, namun&lt;br /&gt;Pertamina menikmati kemakmuran luarbiasa, baik dalam penggajian, pensiun&lt;br /&gt;milyaran rupiahmaupun dalam fasilitas-fasilitas lukslainnya.Pokoknya, tidak ada&lt;br /&gt;duanya kedudukan anak -masPertamina dalam segala hal. Pembukuan Pertamina&lt;br /&gt;tidakpernah boleh diketahui Pemerintah atau di-audit olehsiapapun. Untuk itulah&lt;br /&gt;diperoleh jasa-SatPam dariPurnomo Yusgiantoro dan Sofyan Djalil. Pemerintah&lt;br /&gt;jugadikelabui oleh oligarki pensiunan Pertamina yang dapatsemau gue mendirikan&lt;br /&gt;ratusan anak perusahaan yangmelakukan over-charge dan mark-up ongkos-ongkos&lt;br /&gt;yangdibebankan pada Pertamina tanpa gangguan dari siapapun.The funniest part of&lt;br /&gt;it all, Pertamina sanggupmenggelumbungkan ongkos-ongkos produksi&lt;br /&gt;darikilang-kilang minyak nya yang sedemikian tingginya,hingga harus disubsidi&lt;br /&gt;APBNnya Sri Mulyani tanpa adapemeriksaan terlebih dahulu atas&lt;br /&gt;penggelembunganongkos-ongkos produksi Pertamina. On top of it all,Pertamina&lt;br /&gt;setiap tahun bisa meraub untung raksasa yangseenaknya dibagi-bagikan ke sana ke&lt;br /&gt;mari. Ketololanahli fiskal Sri Mulyani terbukti sudah, karena begitusaja&lt;br /&gt;menyediakan subsidi BBM tanpa pernah terlintaspada benaknya kejadian-kejadian&lt;br /&gt;janggal yangdiperhadapkan keuletan Pertamina menciptakan dirinyamenjadi benalu&lt;br /&gt;tahunan atas rakyat Indonesia, yanghanya memperoleh remah-remah dari kue&lt;br /&gt;nasional yangdinikmati Pertamina sama seperti benalu-benalulainnya, Bank&lt;br /&gt;Indonesia dan BULOG.Bayangkan:*semua Dirut Pertamina kaya raya ala&lt;br /&gt;baron-minyakTexas*semua kaca mata yang dipakai staf dan karyawanPertamina&lt;br /&gt;gratisdiperoleh dari rumah sakit Pertamina.*uang pensiun dari Pertamina bisa&lt;br /&gt;membeli 2-3 rumahluks dan para pensiunan diaktifkan kembali dalamratusan&lt;br /&gt;anak-perusahaan yang diciptakan Pertamina.*Pertamina bisa menjual seenaknya&lt;br /&gt;tanker raksasa yangsudah siap pakai*Pertamina mengangkat Menteri Budiono&lt;br /&gt;menjadiKomisaris untuk mencicipi gaji buta jutaan Rupiah dariPertamina*Pertamina&lt;br /&gt;mengangkat Jendral Endriartono Sutarto-teman dekat SBY-menjadi Komisaris&lt;br /&gt;Utama*Pertamina menghadiahka rumah luks bagi Prof. EmilSalimSemua fasilitas&lt;br /&gt;tersebut, ujung-ujungnya terpulangpada subsidi APBN-nya Sri Mulyani.Sungguh&lt;br /&gt;tidak mengherankan lagi mengapa Pertamina bisamemakai dua Menteri -Purnomo&lt;br /&gt;Yusgiantoro dan SofyanDjalil menjadi SatPam-nya Pertamina. Di mana di duniaini&lt;br /&gt;ada perusahaan minyak yang memperalat satu apalagidua Menteri, yang dipakai&lt;br /&gt;melulu dan tidak lain dantidak bukan untuk mempertahankan Pertamina&lt;br /&gt;sebagaibandit-bandit 'Al Copone' yang sangat bermurah hati?Pertamina seharusnya&lt;br /&gt;dipecah dan dibubarkan untukdijual pada pihak swasta.Di mana ada Bank Sentral&lt;br /&gt;seperti BI yang Gubernurnyamasuk penjara; yang digantikan oleh Budiono yang&lt;br /&gt;tidaktahu apa-apa mengenai ilmu moneter; yang DewanGubernurnya menciptakan&lt;br /&gt;secara kolegial sebuah YayasanDana Uang Sogok Rp 100 miliar. Seyogianya BI&lt;br /&gt;harusdi-retool secara total dan radikal, sedang dalam padaitu Budiono sendiri&lt;br /&gt;harus dipecat.Di mana ada Menteri Keuangan yang menaikkan harga BBMdemi&lt;br /&gt;kesejahteraan perusahaan-minyak tapi yangmenyengsarakan rakyat dan&lt;br /&gt;membagi-bagikan bantuan BLTyang dilindungi Menteri Dalam Negeri dan&lt;br /&gt;Kapolri?Seyogianya Sri Mulyani harus rela berhenti atauterpaksa&lt;br /&gt;diberhentikan.Sungguh benarlah Republik ini sudah TERKUTUK menjadiNegara&lt;br /&gt;Bego.Namun, siapa bilang Rakyat Indonesia dan parademonstran anti kenaikan harga&lt;br /&gt;BBM bisa dan maudiperlakukan sebagai sudah bego juga? NEVER, NONEVER!!!&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-4532630516528059142?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/4532630516528059142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=4532630516528059142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/4532630516528059142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/4532630516528059142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2008/06/ketololan-menteri-ekonomi.html' title='Ketololan Menteri Ekonomi'/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-961902677796805611</id><published>2007-12-12T10:01:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T10:03:33.693-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;PERAN PEMUDA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Berangkat Dari Nasionalisme&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Membangun kesadaran Nation (bangsa) merupakan landasan awal dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nation atau bangsa adalah kesadaran kolektif, yang mana sama-sama menjadi korban penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh bangsa kolonial dan imperialisme. Masyarakat nusantara yang pada masa jaman kolonial yang berbeda bahasa, beragam suku, dan adat yang berbeda. Merupakan landasan awal yang harus di bangun budaya yang sama dan dalam keinginan yang sama (Wils).&lt;br /&gt;Pada masa penjajahan zaman belanda, perlawanan terhadap pihak kolonial masih dalam konteks primordial-primordial masyarakat. Misalnya perlawanan yang di lakukan oleh SDI (serikat dagang islam) di bawah pimpinan gagasan Mas Tirto Adisuryo, perlawanannya masih pada kepentingan politik dagang, khususnya pedagang batik, begitu juga dengan pemberontakan petani Banten, belum terbangunnya kesadaran Nation State (negara - bangsa) untuk kemerdekaan yang seutuhnya ; 100% atas Tanah, Air dan Udara.&lt;br /&gt;Pada tahun 1920-an, kesadaran rakyat atas keinginan bersama (wils) untuk kemerdekaan yang dipelopori oleh pemuda sebagai garda terdepan, karena juga dipengruhi oleh situasi objektif masyarakat yang semakin hari semakin sengsara dan semakin bertambah tertindas, dan akumulasi ini bertemu titik klimaksnya pada sumpah pemuda 28-28-1928.&lt;br /&gt;Sebuah Impian.&lt;br /&gt;Selama tahun-tahun terakhir zaman Belanda, politik pemuda terbatas terutama pada golongan anak-anak priyayi terkemuka. Pimpinannya sangat terpusat di dua kota besar, Jakarta (atau batavia, sebagaiman dikenal pada waktu itu) dan Bandung, karena di tempat itu terdapat fakultas kedokteran, hukum, dan teknik. Sesungguhnya pengalaman hidup dari lembaga-lembaga pendidikan ini (kemanamahasiswa-mahasiswa Indonesia tertarik) menerangkan mengapa justru di tengah-tengah  barisan pemuda-pemuda inilah ideologi “nasionalisme Indonesia” yang khas itu dirumuskan dan di sebarkan untuk pertama kali.&lt;br /&gt;Penentangan. &lt;br /&gt;Kedatangan Jepang disambut sebagai pembebas dari penindasan kolonial pada saat mereka tiba di Jawa dalam bulan Maret 1942,kepopuleran mereka hanya sebentar. Perkosaan, perampasan, perdagangan gelap, dan keangkuhan rasial menimbulkan dendam yang melua, dan kebencian terhadap teror yang dilakukan oleh kenpeitai (polisi militer) malah bertambah besar karena setiap orang terpaksa menyembunyikannya. Perusakan dan perampasan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pendudukan itu paling pahit dirasa oleh kaum tani karena mereka menjadi korban pertama dari penyerahan padi  secara paksa dan program romosha.&lt;br /&gt;Dalam tahun 1944, suatu tahun yang ditandai dengan kegagalan panen yang meluas, dendam beralih keputusasaan dan kebencian kaum melarat. Dan pemberontakan mulai terjadi, seperti pemberontakan di Singaparna (Tasikmalaya) pada tanggal 25 februari 1944, pimpinan di pegang oleh seorang kiai tredisionalis tua yang didukung oleh para anggota pesantrannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Proklamasi Kemerdekan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan Gerakan Rakyat Baru itu menandai berakhirnya kegiatan politik dari zaman pendudukan, dalam mana peraturan-peraturan politik ditetapkan secara mutlak oleh angkatan darat jepang. Pada waktu yang sama dengan jelas kegagalan itu mensinyalir pola perselisihan yang akan timbul pada saat Kerajaan Jepang mendekati keruntuhannya.&lt;br /&gt;Pada tanggal 17 juli 1945, Sauko Senso Shido Kaigi (Dewan Pengawasan Perang Tertinggi) melangsungkan suatu rapat yang menetukan, dalam mana mentri luar negeri Togo membujuk kolega-koleganya untuk supaya kemerdekaan “Boneka” dengan segera diberikan kepada bekas Hindia Belanda, tetapi prakarsa itu supaya diambil, atau nampaknya diambil, oleh rakyat Indonesia sendiri. Pada tanggal 21 juli, keputusan ini setelah disahkan oleh kabinet perang disampaikan kepada panglima angkatan darat ke16, Jenderal Yuichiro Nagano di Jakarta.&lt;br /&gt;PPKI.&lt;br /&gt;Pada tanggal 7 Agustus, Saigon mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pagi 9 Agustus 19945, Sukarno, Hatta, dr. Radjiman Wediodiningrat (ketua badan penyelidik), dr. Suharto (dokter pribadi sukarno), Letnan Kolonel Nomura, dan Miyoshi berangkat ke Singapura dengan menumpang pesawat militer. Disana Nomura melapor kepada pejabat-pejabat militer. Kemudian hari itu juga mereka meninggalkan Singapura untuk melanjutkan perjalanan ke Saigon. Pada tanggal 11 Agustus 1945 Marsekal Terauchi menerima ketiga pemimpin Indonesia itu divilanya di Dalat, dan pada pukul 11.40 pagi Sukarno dan Hatta dilantik sebagai ketua dan wakil ketua dari PPKI yang baru. Dalam pembahasannya disetujuilah  bahwa PPKI akan melangsungkan sidang yang pertama tanggal 18 Agustus, dan bahwa kemerdekaan itu akan disampaikan secara resmi sesegera sesudah persiapan terakhir dipihak Jepang disimpulkan.&lt;br /&gt;Sekitar tanggal 13 Agustus, keanggotaan PPKI diumumkan dan keanggotaannya dikuasai oleh angkatan tua dan tidak ada satu orangpun dari angkatan muda yang dilibatkan.&lt;br /&gt;Problem Kemerdekaan&lt;br /&gt;Berita penyerahan, atau setidaknya desas-desus bahwa hal itu terjadi, beredar begitu cepat melalui jaringan pemuda di seluruh pelosok ibu kota. Rapat darurat pemuda dilangsungkan di Laboratorium Bakteriologi di pegangsaan dekat rumahnya Sukarno. Setelah diskusi secara mendalam, diputuskan untuk mengirim delegasi yang dipimpin oleh Wikana untuk menjumpai Sukarno malam itu juga, mendesaknya supaya membuat proklamasi diluar kerangka PPKI secapat mungkin.&lt;br /&gt;Sejak Kongres Pemuda, para pemuda tetap mendesak pejabat-pejabat Jepang supaya bergerak lebih cepat kearah kemerdekaan, dan mengecam pimpinan tua karean sifat takut-takut dan kepasifan mereka.  Deklarasi kemerdekan yang segera dan otonom adalah penting sekali demi kemerdekaan itu sendiri, sebagai pernyataan secara simbolis dari kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri. Saat krisis yang telah lama dinantikan telah tiba. Jepang sekarang sudah kehilangan wewenang apapun yang oernah mereka miliki; jika pemimpin tua gagal melakukan apa yang diharapkan mereka lakukan, maka pemudalah yang mesti mengambil nasib bangsa ke dalam tangan mereka sendiri.&lt;br /&gt;Pada akhirnya pemuda menculik Sukaeno dan Hatta, sekitar pukul empat pagi tanggal 16 Agustus 1945, Hatta dan Sukarno (bersama keluarganya) dibangunkan dan dibawa ke Rengasdengklok. Dan dari peristiwa ini masih banyak pendapat. disatu pihak, dikemukakan bahwa dengan menyingkirkan Sukarno dan Hatta dari Jakarta, pemuda berharap dapat mencegah mereka dipaksa oleh Jepang untuk memadamkan pemberontakan pemuda yang direncanakan untuk dimulai di Jakrta. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-961902677796805611?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/961902677796805611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=961902677796805611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/961902677796805611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/961902677796805611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2007/12/peran-pemuda-berangkat-dari.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-46295382468300193</id><published>2007-12-12T09:58:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T10:00:33.682-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;What’s   Revolution?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Menjadi revolusioner bukan berarti menjadi buru-buru. Revolusioner sejati bukanlah mereka yang memaksakan satu guideline perubahan berdasarkan ukuran atau asumsi perjuangan kelas-kelas tertinda dalam menguasai alat-alat social sumber penndasan sebagaimana diceritakan (!). kelas tertindas yang didorong membebaskan diri adalah satu hal; tapi bahwa perlawanan kaum  tertindas memiliki dorongan tidak tunggal itu juga hal yang selalu terjadi.&lt;br /&gt;Bahwa Lenin atau siapapun pernah menegaskan rumus-rumus kesadaran sebagai alat revolusi kelas tertindas bukan berarti perubahan Cuma milik Lenin; masyarakat kelas tertindas bukan cerita dan, demikian halnya, pembebasan kelas tertindas mustahil terjadi hanya dengan merujuk dan kemudian kemudian menganggapnya sama dengan cerita-cerita tentang yang pernah dilakukan Lenin, Marx, atau siapapun.&lt;br /&gt;Revolusi adalah sejarah pada pengertiannya yang paling dasar.  Ia hanya bisa lahir dari perlawanan atas apa yang oleh Marx disebut mode produksi masyarakat. Setiap upaya yang mengatas namakan revolusi tetapi tidak mencoba memasuki relung dalam, inner world, yang menjadi dasar segala ‘alasan’ berputarnya roda sejarah suatu masyarakat, hanya akan melahirkan persoalan untung rugi social dan tidak bisa jadi jaminan berakhirnya penindasan-penghisapan (intenisifikasi-super-eksploitatif) kemanusiaan.&lt;br /&gt;Penggalian nilai-nilai revolusioner perjuangan-perubahan selalu diupayakan dengan terlabih dalu menemukan dasar-dasar penghisapan-penindasan; baik ia bernama mode produksi, mode konsumsi, atau sebatas mode distribusi ekonomi politik masyarakat dan kemudian mengidentifikasi pihak-pihak mana yang menguasainya. Menjadikan revolusi sebagai cita-cita berarti menempatkan kenyataan ekonomi politik masyarakat sebagai system sejarah yang nyata-nyata terjadi.&lt;br /&gt;Historisitas dan otentisitas masyarakat merupakan sumber asli revolusi. Sekedar ilustrasi lanjutan, apakah otentifikasi histories yang dilakukan Marx ketika berbicara tentang ‘kerja’ dan mematok revolusi dari perintah moral ‘bersatulah pekerja seluruh dunia’ cukup memadai untuk juga menyimpulkan bahwa seluruh manusia dimuka bumi juga sudah terlibat dalam pengertian kerja sebagaiman dimaksud Marx adalah pertanyaan awal yang penting untuk memulai apapun pembicaraan atau tindakan atas nama Marxisme.&lt;br /&gt;Sekaligus kita dapat ilustrasikan kritik Laclau tentang sumber penindasan yang terjasi di Amerika Latin tiga abad lampau bukanlah kelas pemodal, tapi golongan Feodal Portugal dan Spanyol –negeri yang dimaksud Laclau-untuk membungkam Andre Gunder Frank dari teori ketergantungan. Atau Bill Warren –seorang Marxis orthodok—yang membawa pembicaraan berspektif Marxisme kembali kewacana produksionis; bukan kapitalisme dalam pengertian modal dagang –seperti yang dianut kaum marxis-fungsional—tetapi modal produksi.&lt;br /&gt;Artinya, kalau memang rangkaian revolusi yang terjadi sepanjang sejarah manusia hendak dijadikan alas gambar perubahan kita saat ini, yang mesti kita kedepankan bukan lah permasalahan secuil kepemimpinan (klas) social semasa revolusi. Kita bebaskan Revolusi Rusia dari kerangkeng Leninisme, revolusi Indonesia dari Soekarnoisme, dan revolusi Cina kita bebaskan dari jebakan asosiatif Maoisme, dan demikian seterusnya, untuk kemudian mengembalikan revolusi kepada pemilik dan penggeraknya yang sejati; rakyat!&lt;br /&gt;Dus, sejarah revolusi harus dikembalikan pada esensi awal social dimana revolusi terjadi sebagai hal alamiahdar masyarakat yang diharuskan (oleh penindasan-penghisapan!) untuk segera membebaskan diri. Buku suci perubahan adalah logika social yang terbentuk dari bukan hanya satu, dua, atau tiga kelas social –ingatlah Simon dan Rucio ketika mendiskripsikan wacana produksionis kedalam sub aliran artikulasi mde produksi yang memungkinkan terjadinya aliansi klas atas mode produksi kapitalis, pra kapitalis atau non kapitalis dimana kecendrungan terakhir tersubordinasi atas yang pertama, atau juga Internasionale modal yang berbicara tentang pembagian kerja International dan mode produksi colonial yang diterangkan baik sekali oleh Hamza Alavi—tapi juga dari semesta kesadaran yan mengendap-mendasari relasi social antar klas dalam masyarakat, yang petut disebut dengan class character. Historisitas otentisitas pembebasan, kesejatian revolusi, hanya mungkin diawali dengan perlawanan atas penindasan dan penghisapan otentik-historis yang terjadi dalam setiap fasedisetiap tempat hidup masyarakat.&lt;br /&gt;Yang kemudian perlu terus dicari adalah penjelasan tentang bingkai keaslian serta atas sejarah masing-masing peristiwa revolusi; untuk klas tertindas oleh klas tertindas dan dalam konteks ketertindasannya masing-masing, itulah paragraf pembukaan revolusi (!) bukan dalam pengertian sebagai ritus pemberhalaan sejarah para ideology (politikus besar?) yang telah membacakan dirinya dihadapan sejarah pengetahuan kita.&lt;br /&gt;Menjadi revolusioner adalah menemukan inti kesadaran ketertindasan yang sanggup menyelamatkan maksud-maksud pembebasan dan membangunkan niatan revolusi dari tidur panjang dihadapan nisan para pahlawan.  &lt;br /&gt;(Rakyat koeasa)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-46295382468300193?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/46295382468300193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=46295382468300193' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/46295382468300193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/46295382468300193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2007/12/whats-revolution-menjadi-revolusioner.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-1126798656324860064</id><published>2007-12-12T09:34:00.000-08:00</published><updated>2007-12-12T09:57:02.866-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>"Katakan Indonesia Satu, Satu Indonesia Berkatalah! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!!&lt;br /&gt;Ini syair, syair guna-guna&lt;br /&gt;Ini tembang, tembang gula kelapa&lt;br /&gt;Selalu bergerak&lt;br /&gt;Namun belum dapat berkata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Berakati manusia berkata Insonesia&lt;br /&gt;Berkat&lt;br /&gt;Indonesiaberkat merdeka&lt;br /&gt;Bangkit&lt;br /&gt;Indonesiapada yang sadar merdeka&lt;br /&gt;Indonesiabangkit&lt;br /&gt;Yang sadar merdeka.. yang merdeka sadarlah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Pertiwi jangan berduka!&lt;br /&gt;Pertiwi jangan murka!&lt;br /&gt;Kami air mata, kami darah&lt;br /&gt;Hendak menyanyi pada pesta zaman&lt;br /&gt;Hendak menari untuk perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Sembilan peperangan telah disiapkan&lt;br /&gt;Hormati hidup, hidupi kematian&lt;br /&gt;Barisan pemenang adalah ketulusan&lt;br /&gt;Sembilan kebenaran bersatulah dalam kearifan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Waspadai keragu-raguan&lt;br /&gt;Beri tempat untuk kecemasan beristirahat&lt;br /&gt;Jalan disepanjang ingatan dikepala&lt;br /&gt;Perburuan segelap mata tanpa jendela&lt;br /&gt;Mustahil dilewati tanpa yakin pada jiwa dan nurani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Disetiap tempat kita mesti berangkat&lt;br /&gt;Disetiap waktu kita mesti berburu&lt;br /&gt;Berangkatlah tempat-tempat&lt;br /&gt;Burulah waktu-waktu&lt;br /&gt;Pada jantung zaman kita pasrahkan badan&lt;br /&gt;Pada detak perjuangan kita rayakan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Revolusi tidak pernah marah&lt;br /&gt;Tubuh tebakar bukan perubahan&lt;br /&gt;Kita-kitalah yang harus marah&lt;br /&gt;Kita, sekali lagi kitalah yang membakar perubahan&lt;br /&gt;Nyalakan obor digenggam sadarmu&lt;br /&gt;Tabuh genderang ditelinga keberanianmu&lt;br /&gt;Badaikan perubahan didada karangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Aku nasehati kamu untuk merdeka&lt;br /&gt;Aku merdekamu untuk bijaksana&lt;br /&gt;Yang merdeka yang bijaksana&lt;br /&gt;Tidak merdeka tidak bijaksana&lt;br /&gt;Bukan&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Katakan&lt;br /&gt;Indonesiasatu, satu&lt;br /&gt;Indonesiaberkatalah!&lt;br /&gt;Puisi kita bukan lagi puisi yang ditulis dengan kata-kata&lt;br /&gt;Melainkan puisi yang dijalani dengan keringat, air mata, dan&lt;br /&gt;Darah untuk Ibu prtiwi&gt;&lt;br /&gt;Dari hati yang terluka&lt;br /&gt;Karena selalu dikhianati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;kotaRevolusi&lt;br /&gt;Agus S.Malma&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-1126798656324860064?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/1126798656324860064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=1126798656324860064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/1126798656324860064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/1126798656324860064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2007/12/katakan-indonesia-satu-satu-indonesia.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-5297877101740617003</id><published>2007-11-19T21:44:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T23:14:49.197-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/R0J2umuTHrI/AAAAAAAAAAU/nnmYarV_BdE/s1600-h/DSCN4800+.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5134797068196585138" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/R0J2umuTHrI/AAAAAAAAAAU/nnmYarV_BdE/s320/DSCN4800%2B.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-5297877101740617003?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/5297877101740617003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=5297877101740617003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/5297877101740617003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/5297877101740617003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2007/11/blog-post_19.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/R0J2umuTHrI/AAAAAAAAAAU/nnmYarV_BdE/s72-c/DSCN4800%2B.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3369066622380213377.post-467966294863320282</id><published>2007-11-13T20:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T23:14:49.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minangkabaui'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/Rzp_zteipII/AAAAAAAAAAM/jdGZ4Mf4U5M/s1600-h/3riQ.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132555251699852418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/Rzp_zteipII/AAAAAAAAAAM/jdGZ4Mf4U5M/s320/3riQ.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3369066622380213377-467966294863320282?l=erickmutiara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erickmutiara.blogspot.com/feeds/467966294863320282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3369066622380213377&amp;postID=467966294863320282' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/467966294863320282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3369066622380213377/posts/default/467966294863320282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erickmutiara.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>erick mutiara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08388670341871145895</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_ILjjX_VD744/R1eHArpWJdI/AAAAAAAAAAo/V2aFR4Xtrag/S220/DSCN4822%2B.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ILjjX_VD744/Rzp_zteipII/AAAAAAAAAAM/jdGZ4Mf4U5M/s72-c/3riQ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
